TIPS JITU
MENANAMKAN HAPALAN BACAAN SHALAT KE PADA ANAK
Oleh : Yuyu Listiana, SP., S.Pd.
Kepincangan antara pemupukan kecerdasan (akal)
dengan pemupukan budi (terutama agama) menyebabkan dunia mudah terseret ke
dalam lembah keonaran, mudah terpengaruh oleh bentuk-bentuk lahir yang kemilau
(materialistis), kurang dapat membedakan mana yang lurus dan mana yang fitnah
mengakibatkan nyawa manusia itu jatuh jadi benda yang tidak berharga sama
sekali, sehingga manusia kehilangan ketentraman lahir dan batin.
Faktor
ikutan yang timbul lebih mengerikan walaupun akibat itu tidak langsung
terlihat, yakni kerusakan jiwa (mental) berlarut-larut. Semua itu berintikan akibat terabaikannya
kaidah-kaidah agama, dilupakannya norma-norma etika. Dikuatirkan kepada remaja sebelum ia
mengenal benar-benar syari’at dan
hakekat agama, ia telah terperosok oleh jaringan kata-kata lawan yang
kelihatannya lebih ilmiah, lebih bernilai sains, yang sesuai dengan tuntutan
zaman. Kepada generasi semacam itu kita
memberikan senjata-kontra yang serupa.
Kewajiban kitalah memberikan teori dan metode yang sama kepada generasi
muda agar mereka tidak mudah terkecoh.
Asalkan teori itu tetap didasari oleh sumber-sumber agama kita, agama
islam, agama wahyu yang terakhir yang paling lengkap dan sempurna. Untuk mengatasi semua kepincangan-kepincangan
ini serta menghindarkan kerusakan-kerusakannya yang lebih jauh, marilah kita
kenalkan syari’at tiang agama ini sebaik-baiknya.
Dr. Richard C.
Cabot pernah menanggapi tentang shalat sebagai berikut : “ Shalat ialah dengan
sadar mencari perhubungan dengan Sukma
Semesta Alam dan kita butuh pada itu, seperti kita butuh pada makan dan tidur.”
(Alam Pikiran 256). Suatu hal
yang mudah ditangkap dan perlu diketengahkan dalam masalah ini, ialah tekanan
kata-kata “dengan sadar”. Tegas
dimaksudkan oleh kalimat di atas bahwa shalat itu harus dengan sadar
melakukannya.
Nyata
dan jelas bahwa shalat itu harus diusahakan dengan iradat dan kodrat manusia
itu sendiri secara “ sadar” bukan membiarkan apa adanya, sambil menunggu ilham
dan kodrat ilahi semata, dan bukan pula (dengan) melalui keadaan tidak
sadar. Dari landasan ini lebih
mempertegas ketentuan bahwa harkat melakukan shalat yang akan dicapai itu lebih
tinggi dan lebih sukar dibandingkan dengan harkat melakukan pekerjaan biasa
sehari-hari.
Sementara
itu kita teringat ungkapan : “ satukanlah kata dan perbuatan demi tercapainya
kebahagiaan!” kaitannya dengan shalat kita lengkapi ungkapan tersebut yakni : satukanlah
kata dan perbuatan, tanggapi dengan sepenuh pengertian dan ikutilah dengan
kehadiran hati, serta sempurnakanlah dengan sebaik-baiknya ucap dan sikap. Barangkali
inilah salah satu penyebab, maka shalat itu disebut tiang agama atau pula
disebut “kepala” sebagian ibadat dan ada pula yang menyebut ibadat yang
sebenar-benarnya. Memang dalam shalat
itulah terkumpul dan tersusun segala sikap jasmani beribadat yang ikhlas,
hormat, ta’zim, menyehatkan dan tak melampaui batas segala bentuk ucapan
dzikir, suci mulia yang tergambar dalam takbir, tahmid, tasbih dalam do’a dan
permohonan; segala bentuk konsentrasi kejiwaan dan meditasi ibadat yang sesuai
dengan fitrah manusia dan tidak berlebih-lebihan.
Tahap pertama minimal anak-anak kita kenalkan dengan bacaan-bacaan dalam shalat. Kita
kenalkan tentang tiang agama ini (bacaan-bacaan shalat) sejak kecil sejak usia
dini. Otak merupakan salah satu organ
dalam tubuh manusia yang tersusun dengan sejumlah jaringan pendukung dan
miliaran sel saraf yang saling terhubung yang mengatur dan mengakomodir
sebagian besar, gerakan, perilaku dan fungsi tubuh seperti detak jantung,
tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan suhu tubuh. Golden age atau usia emas anak kita
manfaatkan sebaik-baiknya. Golden age
adalah masa di mana anak dilahirkan hingga anak berusia 5 tahun. Pada usia tersebut, otak anak tumbuh dan
berkembang sangat cepat sehingga peran orang tua sangat penting dalam
perkembangan anak di usia emas tersebut.
Pada usia ini (usia
5 dan atau 6 tahun) mulai kenalkan tentang shalat dan tanamkan bacaan-bacaannya
supaya kita bisa mempersiapkan mereka menjelang usia tujuh tahun. Sebagai mana Nabi SAW menyebutkan pada usia
tujuh tahun ini anak-anak kita harus sudah diajari dan disuruh melaksanakan
shalat, bahkan jika mereka masih enggan melaksanakan, kita diwajibkan mencambuk
betisnya dengan lidi. Menanamkan hapalan
bacaan shalat terhadap anak, bisa dikatakan gampang-gampang susah. Bisa dengan cara kita ajari (beri hapalan)
sedikit demi sedikit, atau anak menghapal sambil memperaktikan gerakan
shalatnya secara langsung.
Berdasarkan
pengalaman cara menanamkan hapalan bacaan shalat dengan cara diberi hapalan
sedikit demi sedikit dan anak menghapal
sambil memperaktekan langsung memiliki tingkat perbedaan hasil yang sangat
signifikan. Anak-anak yang diberi
hapalan bacaan sedikit demi sedikit cenderung membutukan waktu yang cukup lama,
bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk bisa menghapal semua bacaan
shalat dengan baik (tergantung rutinitas kontinyu atau tidak dan juga kemampuan
IQ anak dalam menghapal), selain itu
terkadang anak merasa bosan juga. Cara
yang paling efektif menanamkan bacaan shalat terhadap anak yaitu dengan cara anak diajak memperaktikan
langsung dalam hal ini menghafal
sekaligus belajar peraktik shalatnya, melalui rutinitas ini dalam waktu
yang cukup singkat mereka sudah mampu
menghapal bacaan shalat dengan baik.
Adapun caranya setiap tiba waktunya shalat,
anak kita ajak untuk selalu shalat berjamaah dengan orang tua (sebagai imam)
sedikit mengeraskan semua bacaan shalatnya supaya bisa didengar dan diikuti
oleh anak yang sedang belajar menghapal bacaan shalat tersebut. Dalam waktu hanya satu minggu anak sudah bisa menghapal semua bacaan shalat
(tergantung kemampuan iQ anak) walaupun belum terlalu lancar dan pasih. Namun setelah dua minggu kita kontinyu selalu
shalat berjamaah dengan anak, hasilnya sangat menakjubkan, anak sudah lancar dan
cukup pasih semua bacaan shalatnya. Jika
kita lihat dari kerucut pengalaman, hal ini sesuai jika “bermain peran, melakukan
simulasi, atau mengerjakan hal yang nyata” dengan tingkat keterlibatan “
terlibat-------berbuat” maka yang diingat 90%.
Identitas Penulis :

Tempat,
Tgl. Lahir : Garut, 12 Maret 1982
Alamat
Rumah : Kp. Mangkalaya RT. 03
RW. 04 Ds. Pangauban
Kec. Cisurupan Kab. Garut
Tempat
Mengajar : SDN 1 PANGAUBAN
Kec. Cisurupan
Komentar
Posting Komentar