CERITA & HARAPAN DIBALIK TEST ASN P3K TAHAP 1
Oleh : Yuyu Listiana, SP., S.Pd.
Waktu
test adalah waktu yang ditunggu-tunggu sekaligus waktu yang mendebarkan yang
membuat saya deg-degan sekaligus nerves juga.
H-1 waktu pelaksanaan semua peserta wajib melaksanakan test swabb / test
anti gen dengan tujuan agar semua peserta bisa mengikuti test dengan kondisi
yang prima dan tidak menularkan penyakit/virus berbahaya kepada petugas/panitia
juga kepada peserta lainnya.
Diantar suami dan turut serta si kecil
yang masih balita, Saya melakukan test swabb/test anti gen di PKM terdekat dari
sekolah tempat saya mengajar. Setelah
menunggu kurang lebih 30 menit hasil test swabb pun keluar dan alhamdulillah
hasilnya negatif.
Sebelum
pulang ke rumah kami bertiga ke pasar terlebih dahulu untuk membeli barang
dagangan yang sudah habis di warung. Selain warung dulu untuk tambahan penghasilan
saya juga menerima les komputer (suami saya sebagai instrukturnya), matematika dan Bahasa Inggris (saya sendiri),
namun sejak saya melahirkan anak ke 3 sampai sekarang les tersebut saya tutup dulu karena dengan mempunyai
bayi saya cukup kerepotan. Sekarang yang masih saya jalani warung, sudah
bertahun-tahun saya di rumah buka warung
kecil-kecilan untuk menambah
penghasilan walaupun tak seberapa lumayan untuk menyambung kebutuhan hidup
sehari-hari. Selesai belanja kami pulang ke rumah, dan menyimpan belanjaan
sesuai tempatnya masing-masing. Selang
beberapa waktu si kecil merengek, ku peluk dan ku gendong ternyata badan sikecil
panas dan demam, rupanya sikecil masuk angin dan kepanasan waktu ku bawa ke PKM dan ke Pasar.
Sore
hari panas dan demamnya makin tinggi, saya pun meminta suami untuk membelikan
obat penurun panas. Walau pun sudah diberi
obat, sampai malam hari si kecil tetap merengek dan tidak mau turun dari gendongan, baru bisa
ku turunkan sekitar pukul 23.30. Baru
saja saya tidur kurang lebih 2 jam si kecil sudah merengek lagi minta minum dan
badannya pun panasnya begitu tinggi, si kecil
terus bangun dan sesekali nangis, saya
pun terjaga sampai azan subuh tiba.
Esoknya
jam sudah menunjukan pukul 10.30 saya pun harus segera berangkat ke tempat test. Rasanya hati ini berat sekali harus
meninggalkan si kecil yang sedang sakit,
tangisan si kecil dengan air mata membasahi pipinya serta lirihannya
membuat dadaku begitu sesak, namun apa mau dikata setelah ku peluk, ku ciumi
dan ku usap-usap kepalanya saya pun
berbisik pamit sekaligus minta do’anya agar di mudahkan dan dilancarkan
mengerjakan soal-soal testnya dan bisa lulus.
Dengan
berat hati saya pun meninggalkan putri kecilku yang sakit yang hanya ditemani
putra ke duaku yang baru berusia 8 tahun, ku percayakan padanya untuk menjaga
adiknya yang sakit dan masih balita.
Diawali bismillah saya serahkan semua urusan dan saya titipkan
anak-anakku kepada Sang Maha Penjaga Allah SWT.
Saya pun berangkat diantar suami sampai naik angkot, karena dari rumah
ke jalan raya kurang lebih 5 km, tidak ada angkutan umum hanyalah jasa ojeg itu
pun sewaktu-waktu jika kebetulan ada yang lewat. Setelah saya naik angkot suami pun bergegas
pulang karena khawatir meninggalkan anak-anak di rumah apalagi sikecil sedang
sakit.
Selama
perjalanan dalam angkot tubuhku mulai terasa
sedikit panas dingin, bahuku pegal mungkin karena dari kemarin berjam-jam
menggendong sikecil dan kepalaku pening
karena kurang tidur, pikiranku dibayangi terus dengan wajah sikecil
yang sakit, rasanya terdengar terus di telingaku lirihannya yang tidak mau ditinggalkan. Tidak terasa air mataku pun menetes, saya
hanya bisa berdo’a semoga si kecil baik-baik saja dan nanti saya bisa fokus
mengerjakan soal (walaupun ku sadari semalam
saya tidak seperti orang lain yang bisa persiapan untuk tes hari esok). Setelah kurang lebih 45 menit perjalanan
sampailah di lokasi ujian, saya pun turun dari angkot dan membayar uang ongkos
kepada Pa Sopir. Selanjutnya saya
menyebrang menuju lokasi ujian/test.
Di
depan gerbang sekolah tempat ujian/test saya bertemu seorang ibu yang usianya
terpaut jauh denganku beliau layaknya
ibu atau kakak tertuaku, rupanya ibu
tersebut sama peserta test juga. Kami
pun saling sapa dan berkenalan, wajahnya
begitu girang setelah kami saling menyebutkan tempat ujian ternyata kami satu
ruangan. Sambil jalan memasuki halaman
tempat ujian, beliau mengatakan kalau dia tidak bisa komputer, tidak bisa
menggunakan muose dan bingung menghadapi ujian ini. Saya berusaha menengkan beliau, “ ibu, enggak
apa-apa tenang aja jangan takut, kalau tidak bisa menggunakan mouse, ibu bisa
menggunakan keyboard”. Ucapku. Beliau
terdiam seperti makin bingung juga. Beliau
menatapku sambil berkata, “ alhamdulilah kita satu ruangan, Eneng nanti bantu
ibu !“. Tatapannya penuh harap. Jawabku,
“ in syaa allah kalau saya bisa, bu ! pokonya ibu tenang saja nanti juga ada
pengawas yang bisa bantu kita kalau kita ada kesulitan/masalah”. Kebetulan waktu duhur tiba kami pun
Bersama-sama langsung menuju musola yang ada di sekolah tersebut untuk shalat
terlebih dahulu.
Pukul
13.30 semua peserta telah berkumpul mengisi tempat duduk yang disediakan panitia untuk pemeriksaan
administrasi dan body chek. Panitia pun menyampaikan arahan-arahan kaitannya
dengan pelaksanaan test. Dengan
menggunakan microphone, secara berurutan berdasarkan ruang ujian panitia
memanggil satu persatu peserta test untuk di chek kelengkapan admistrasi dan
hal-hal lainnya. Setelah beberapa
peserta yang dipanggil, akhirnya saya pun dipanggil juga. Selesai pemeriksaan saya menuju ruang ujian
yang berada di lantai 2. Tidak lama
kemudian ibu yang tadi pun memasuki ruangan dan ternyata nomor komputer/tempat
duduk beliau berdampingan dengan dengan saya.
Betapa girangnya beliau, sambil memeluk pundakku beliau berkata, “
Alhamdulillah ibu berdekatan dengan eneng,” katanya. “ iya alhamdulillah, bu !”. Jawabku sambil tersenyum dan menggangguk.
Semua
peserta sudah duduk di depan meja komputernya masing-masing. Panitia pun mulai membacakan tata tertib
ujian dan memberikan arahan tentang pelaksanaan ujian. Waktu pengisian biodata dan pengetikan token
komputer sudah dimulai, semua peserta mulai fokus dengan komputernya
masing-masing. Ibu yang di
sampingku masih kebingungan, dan
pengawas pun akhirnya datang membantunya.
Setelah beliau bisa membuka soal di komputer, pengawas pun pergi
berkeliling membantu peserta lain yang mengalamai kesulitan terutama yang
berkaitan dengan gangguan teknis.
Dengan
kondisi kurang fit badan terasa panas
dingin dan bahu begitu pegal (mungkin bekas menggendong) ketika tanganku di
atas meja untuk pegang mouse, saya pun mulai mengerjakan soal. Selang beberapa menit saya mengerjakan soal, ibu yang di sampingku
terdiam tampak kebingungan lagi, beliau memutarkan pandangannya sepertinya
mencari pengawas. Cukup lama beliau terdiam dan tampak panik. Sayangnya pengawas berada dibarisan belakang
sedang membatu peserta lain. Dalam tata
tertib ujian peserta tidak boleh
membantu peserta lain jika ada masalah maka pengawaslah yang bertanggung jawab
dan berkewajiban membantu. Dengan
perasaan was-was dan khawatir (saya melanggar tata tertib), namun panggilan nuraniku mengalahkan rasa takutku,
dalam hatiku kasihan beliau menunggu lama pengawas datang, sedangkan pengawas
sedang membantu yang lain. Pikirku
berapa menit waktu beliiau terbuang
menunggu pengawas, sedangkan satu detik pun waktu sangatlah berarti
untuk mengerjakan soal. Akirhya saya
memberanikan diri, saya tengok beliau dan saya tanya, “kenapa bu ?”. beliau
menjawab, “ neng ini harus bagaimana ?”.
Beliau
menatapku penuh harap dengan genangan air bening di sudut matanya hingga jatuh
membasahi maskernya. Hati mana pun
rasanya tak akan tahan melihat tatapan itu, sungguh tersayat hatiku dalam
bayanganku beliau adalah guruku yang saat ini membutuhkan bantuanku, mereka
yang sudah sepuh seperti beliau yang
hanya beberapa tahun lagi purnabakti
harus mengerjakan soal dengan
segala keterbatasannya. Saya menengoki
pengawas yang lagi sibuk membantu peserta lain, pengawas di ruangan saya hanya
satu orang sedangakan peserta yang harus dilayani ada beberapa orang. Saya memberanikan diri bangkit dan
menghampiri beliau. Saya bertanya, “
bagaimana bu, apa masalahnya ?”. ibu menjawab, “ini harus bagaimana, saya pijit
tidak muncul juga ?”. Rupanya beliau
ragu-ragu memijit keyboardnya sehingga tidak mengklik sesuai jawaban beliau. Saya langsung pijit keyboard sesuai jawaban
beliau. Saya bisikan, “ enggak usah ragu
bu, sedikit agak keras mijitnya,”.
Beliau pun menggangguk.
Begitu
seterusnya selama ujian berlansung, beliau hampir terus didampingi pengawas dan
ketika pengawas pergi membantu peserta lain, maka sayalah sesekali membantu
beliau. Selesai ujian beliau melihat perolehanku nilaiku dan beliau berkata, “ nilai
ibu kecil teknisnya hanya 145, nilai
eneng begitu besar”. Jawabku, “saya juga
kecil bu teknisnya sedikit lagi untuk mencapai PG, nggak apa-apa ibu itu hebat bisa dapat nilai cukup besar saya
juga itungan masih muda cuma segini”.
Ucapku dengan maksud membesarkan hati beliau. “In syaa allah mudah-mudahan dengan afirmasi
saya dan ibu bisa sampai/lolos”. Lanjutku. Beliau memelukku dan menangis tersedu-sedu
sambil berkata, ” Eneng terimakasih sudah membantu ibu, terimakasih
banyak”. Jawabku, “ iya sama-sama bu
kita saling do’akan saja mudah-mudahan kita sama-sama lulus “, sambil ku peluk dan ku usapi punggungnya”. Beliau pun mengamiinkannya.
Semoga ditahap
dan atau ditahun-tahun berikutnya kita tidak mendengar lagi kisah seperti
ini, dengan harap kebijakan dan keadilan
tegak seadil-adilnya di negeri Indonesia tercinta. Yang
memiliki serdik dikompetisikan dengan yang sudah memiliki serdik juga
biar sebanding/sepadan (rasanya
sangatlah tidak adil jika di tandingkan dengan yang belum berserdik) atau
mungkin ada kebijakan lain untuk mereka.
Baik bagi yang tua maupun muda
khususnya bagi para pengabdi negeri dan pencerdas anak bangsa ada keadilan untuk mendapatkan
kesejahtraan yang layak. Yang sudah
sepuh dihormati dan dihargai jasa beserta
pengabdiannya, karena di eranya beliau pun sangat produktif bahkan semangat mengajar dan mendidiknya
tetap membara sampai sekarang walau fisiknya tak lagi sekuat dulu. Yang
muda pun dihormati dan diakui kualitas beserta kretifitasnya. aamiin
Nama : Yuyu Listiana, SP., S.Pd.
Tempat, Tgl. Lahir : Garut, 12 Maret 1982
Alamat Rumah : Kp. Mangkalaya RT. 03 RW. 04 Ds. Pangauban
Kec. Cisurupan Kab. Garut
Tempat Mengajar : SDN 1 PANGAUBAN
Kec. Cisurupan

Komentar
Posting Komentar